Bagian 2: Melakukan perjalanan

Bagaimana revolusi teknologi mengubah pengalaman bandara dan penerbangan di tahun 2020-an dan ke depannya

TOM dijemput oleh taksi Google

: Bandara masa depan: akses masuk bandara dan keberangkatan yang praktis

Taksi Google sedang menunggu TOM (Traveller of the Millennium/Pelancong Milenium) di luar rumahnya. Tetapi kemiripannya dengan taksi tahun 2014 hanya sedikit.

Taksi ini dilengkapi akses internet yang dikontrol gerakan jari dan suara melalui layar 3D, sehingga TOM dapat menyapa keluarga dan teman melalui Skype dalam perjalanan. Perjalanan ke bandara pada jam 4 sore tidak pernah semulus ini.

Di bandara, kemajuan teknologi berhasil melenyapkan antrean check-in, dan bahkan loket check-in itu sendiri. TOM bisa meletakkan kopernya di titik otomatis yang ada di seluruh area terminal, dan melakukan check-in dengan perintah suara ke AI (Artificial Intelligence) yang dikenakannya.

TOM mengantarkan tasnya di bandara sambil memesan makanan

Banyak orang dalam industri penerbangan terkemuka menganggap skenario ini sepenuhnya bisa diwujudkan. “Pada tahun 2025, teknologi swalayan otomatis, yang dioperasikan dengan telepon cerdas, memungkinkan pelancong meletakkan tasnya di McDonald’s, atau melakukan check-in sambil membeli kopi di Starbucks,” ujar Patrick Yeung, CEO Dragonair.

Akan hadirnya teknologi ini sedang dipersiapkan di bandara. British Airways dan Microsoft bekerja sama untuk menguji label tas digital personal yang diaktifkan dengan telepon cerdas yang sepenuhnya meniadakan label kertas, tiket, dan kartu boarding pass.

Koper dengan label digital yang telah diatur dengan informasi penerbangan

Label digital bisa disetel sebelumnya dengan informasi detail penerbangan dan informasi tujuan bagasi. Dengan teknologi NFC (Near Field Communications), label dapat dipindai dan dikirimkan dengan cepat.

Teknologi yang sama juga memungkinkan TOM melacak tasnya sendiri, menempatkannya di konveyer bagasi, atau memantau koper saat dipindahkan dari satu bagian bandara ke bagian yang lain.

“Ini adalah puncak gunung es dari teknologi yang sangat memukau,” beber Asisten Pendiri Future Laboratory, Martin Raymond. Menurutnya, kita sedang menyaksikan lahirnya sesuatu yang sudah sering diperbincangkan, Internet Segala Hal, di mana akan semakin banyak produk dalam dasawarsa mendatang – 50 miliar perangkat, menurut Cisco – akan terhubung ke internet dan satu sama lain, seperti produk pakaian, aksesori, kulkas, bahkan sikat gigi dan koper.’

Tablet pintar untuk check-in di bandara

Artinya, lanjut Raymond, sistem pelabelan ini akan menautkan ponsel, hotel, rumah atau isi koper ke perangkat yang sama. Dengan demikian, hotel tempat menginap akan tahu bahwa Anda memerlukan lebih banyak kosmetik, kulkas tahu jika Anda perlu dipesankan makanan pokok, sedang mesin cuci akan menyiapkan pengaturan eco load-nya untuk mencuci banyak sekali pakaian kotor yang Anda bawa pulang.

Namun, pelabelan cerdas hanyalah awal perjalanan. Tablet cerdas sudah digunakan oleh inisiatif Fast Travel, All Nippon Airways, yang menyediakan tablet bagi pelancong untuk melakukan check-in dalam hitungan detik sebelum memandunya melalui pemeriksaan keamanan dan ke pintu keberangkatan.

Di bandara Heathrow dan Frankfurt, iQueue, produk yang dilengkapi Bluetooth, sudah dipasang untuk memahami perilaku penumpang dan mengurangi kemacetan. Produk ini memantau antrean, waktu tunggu, kontrol akses, dan layanan terkait.

Di masa mendatang, menurut pakar kami, begitu sistem seperti ini selesai diuji, penumpang mampu mengakses data yang disimpan melalui aplikasi dan menggunakan wawasan yang diperoleh untuk mempercepat perjalanannya sendiri.

TOM check in di kios self-service

Di bandara Incheon di Seoul, Korea Selatan, sebuah kios yang bersifat self-service memungkinkan check-in ke delapan maskapai utama hanya dalam tiga menit. Keberangkatan tidak lama lagi akan mengoperasikan sistem imigrasi biometrik menggunakan pengenalan wajah dan boarding pass akan ditiadakan berkat paspor yang bisa dibaca mesin.

Bagi banyak pakar industri, pengembangan ini baru langkah pertama dalam proses yang akan mendorong ke arah infrastruktur bandara otomatis yang praktis dan akan dinikmati TOM alias pelancong millenium pada tahun 2024.

Seperti yang diutarakan oleh Greg Fordham, Managing Director Airbiz, dalam kurun waktu lima tahun tidak akan ada satu petugas manusia pun di terminal.

Perjalanan bandara yang serba otomatis akan memungkinkan penumpang memegang seluruh kendali, sedangkan tim staf bandara yang memiliki kemampuan multibahasa dan multikeahlian akan fokus membantu mereka yang memerlukan.

Proses otomatis dan swalayan juga hampir meniadakan antrean. Dan karena setiap pelancong mengurus sendiri keperluannya di satu area secara bersamaan, maka perjalanan di bandara tidak akan banyak memakan waktu.’

Pintu keamanan juga memungkinkan TOM kembali menghemat waktu berharganya. Antrean panjang dan mesin sinar-X yang digunakan pada 2014 akan menjadi bagian masa lalu yang tak lagi digunakan.

Sebagian besar teknologi ini sedang direncanakan untuk digunakan di T4 Bandara Changi Singapura, yang rencananya akan dibuka pada 2017. Pemindaian biometrik, check-in swalayan, dan boarding digital melalui ponsel hanyalah beberapa inovasi standar yang direncanakan, beserta concierge virtual. Yakni toko yang memajang produk yang perlu dipindai jika hendak membelinya dan produk itu langsung dikirim ke rumah tanpa perlu dibawa masuk ke pesawat.

Penumpang dan koper diperiksa oleh scanner molekul laser di area keamanan

“Kartu data biometrik akan menggantikan paspor, yang mengidentifikasi pelancong sebagai risiko keamanan rendah, tepercaya, dan memungkinkan melewati uji keamanan dengan cepat serta menghemat banyak waktu untuk transit dan boarding,” ungkap Dr Ian Yeoman.

Selain itu, perangkat lunak pengenal wajah akan digunakan untuk menandai mimik wajah atau gerakan badan yang mengisyaratkan penumpang yang membawa anak-anak yang sedang stres tinggi (untuk pelacakan cepat), pelancong yang mungkin membawa barang ilegal (untuk diperiksa lebih lanjut), atau mereka yang mungkin menimbulkan risiko keamanan di bandara atau di pesawat.

Penumpang dan koper diperiksa oleh scanner molekul laser di area keamanan

Bagasi tidak perlu lagi melewati pemeriksaan Sinar X. Sebagai gantinya, generasi baru pemindai molekuler laser akan memeriksa penumpang dan koper mereka dalam hitungan tidak sampai satu detik saat mereka melalui area keamanan yang tidak berpenghalang.

Pemindai badan molekuler laser dari Genia Photonics, sekarang sedang diperkenalkan di Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, 10 juta kali lebih cepat dibandingkan pemindai konvensional dan bisa beroperasi dari jarak 50 meter sehingga dapat melihat semua penumpang dan bukan hanya sekelompok pilihan tertentu saja.

Time Tower di bandara internasional L.A

: Bandara masa depan: sisi udara dan penciptaan Aeroville

Setelah melewati check-in dan pemeriksaan keamanan versi 2024 yang menyenangkan, TOM bisa memanjakan diri di sekitar area keberangkatan yang dirancang dengan cerdas sehingga transit pun menjadi bagian pengalaman liburan yang penting dan menarik.

Seperti yang disampaikan Melissa Weigel, Direktur Multimedia Senior di Moment Factory, studio desain lingkungan multimedia yang baru-baru ini merenovasi terminal internasional di Bandara Los Angeles, saat ini,bandara terasa seperti pengorbanan yang harus dilakukan demi perjalanan, di mana-mana kita terjebak dan ingin cepat keluar.

“Tidak lama lagi, bandara akan menjadi bagian penting dari pengalaman liburan, tempat di mana kita merasa nyaman menghabiskan waktu di dalamnya. Bandara akan menghadirkan kesenangan baru bagi pelancong selama perjalanan. Bandara akan menyenangkan dan indah dengan arsitektur cerdas yang berpengaruh pada suasana ruangan,” ujarnya.

Moment Factory, yang terkenal sebagai produser di balik video pertunjukan Madonna, World Tour and Super Bowl 2012, menghadirkan konten multimedia dan interaktif untuk tujuh layar LED raksasa yang ditempatkan di lokasi strategis di sekeliling terminal.

Fitur utamanya adalah Menara Waktu empat sisi setinggi 72-kaki yang mengelilingi salah satu lift utama terminal. Salah satunya, fitur trompe l’oeil perlahan-lahan beralih antar video-video yang terinspirasi film Hollywood lawas. “Menurut kami, ini seperti menceritakan kisah Los Angeles,” tutur Weigel.

TOM melihat seni Belanda di bandara Schiphol Amsterdam

Baliho ini tidak menampilkan iklan. Instalasinya dimaksudkan untuk menghibur dan menenangkan, bukan sekadar membuat konsumen senang.

Setelah sekian lama dianggap sebagai zona transisi konvensional, bandara kini menjadi beberapa tempat terbaik di dunia untuk menikmati seni. Bandara Changi Singapura memiliki patung bergerak terbesar di dunia, Kinetic Rain. Bandara Schiphol Amsterdam memamerkan masterpiece Belanda yang dipinjam dari Rijksmuseum.

Bagi Marion Witthøfft, Kepala Commercial Excellence di Bandara Copenhagen, perubahan artistik di beberapa bandara merupakan konsekuensi meningkatnya ekspektasi penumpang yang tidak bisa dihindari. “Mereka mengharapkan bandara yang efisien, tetapi mereka menginginkan agar bandara lebih dari sekadar efisien,” jelasnya.

Witthøfft ingin bandaranya menghadirkan momen magis saat penumpang melihat sesuatu dan menikmati sesuatu yang tidak mereka duga. Seperti halnya prestasi Moment Factory di Bandara Los Angeles, yang disebutnya momen magis.

TOM di teras luar ruangan bandara

Hasrat memiliki gedung terbuka yang luas melandasi desain Aeroville yang baru dan menginspirasi seluruh dunia yang akan menjadi pengalaman bandara di 2024.

Bandara Changi Singapura memiliki atap kupu-kupu, taman vertikal lima tingkat, air terjun, empat bioskop, dan kolam renang rooftop. Bandara lain sekarang mulai memasang sistem ventilasi dan teras luar ruang yang memungkinkan pelancong menghirup udara segar dan terbuka, seiring banyaknya riset yang mengindikasikan bahwa hal ini merupakan fokus masalah utama bagi pelancong global. Survei baru-baru ini yang dilakukan Skyscanner mengindikasikan bahwa 43 persen penumpang menyukai tempat parkir udara terbuka atau pantai sebagai bagian dari pengalamannya di bandara.

Bandara Internasional Kuwait yang baru –dibuka pada 2016 – akan menjadi terminal penumpang pertama di dunia yang bersertifikat emas LEED (Leadership in Energy and Environmental Design). Lengkap dengan air terjun internal yang sejuk dan dikelilingi taman bergaya oasis.

“Dalam bandara masa depan kita,” ungkap Martin Raymond dari The Future Laboratory, “tampilan interaktif, lingkungan imersif, penggunaan sistem proyeksi pencarian jalan atau hamparan realitas maya yang memungkinkan setiap penumpang menciptakan rutenya di terminal bandara akan menjadi bagian dari apa yang disebut pakar sebagai experiums – zona seperti tempat parkir ritel, ruang umum dan pusat belanja di mana infografik, teknologi pencarian jalan, dan geo-tagging dipadukan untuk mengubah perjalanan biasa atau area transit menjadi kisah yang imajinatif, imersif, dan interaktif.”

TOM belanja dari dinding belanja virtual

Pengalaman belanja dan kuliner akan ditransformasikan pada 2024 dengan pemusatan Transtailing – format baru Transit Retail – dan paduan teknik ritel fisik dan digital yang disebut Phygital.

Etalasi peritel olahraga Adidas dan peritel fesyen AS Forever 21 yang memungkinkan pelanggan membeli barang hanya dengan mengarahkan telepon cerdasnya ke produk tersebut menunjukkan wujud dari hal-hal yang akan hadir untuk industri kuliner dan ritel bandara. Tetapi bayangkan menampilkan benda-benda ini secara virtual atau menambah antarmuka haptic atau sarung tangan haptic seperti yang digunakan peneliti untuk meningkatkan ketaktilan di dunia game. Sekarang tambahkan teknologi yang memunculkan aroma sesuatu tepat dari tempat di mana produk berada, seperti bau kulit dari bagian dalam sepatu, atau di dalam kantung barang duty-free. Anda akan mulai paham mengapa penelitian terhadap bau maya di University of Agriculture and Technology Tokyo, yang dulunya kurang bisa dipahami pentingnya, menarik peneliti yang ingin menjadikan pengalaman belanja virtual di masa mendatang lebih menarik dan memuaskan.

Smelling Screen milik tim ini, yang dipresentasikan di konferensi IEEE Virtual Reality 2013 di Orlando, Florida, bisa menghasilkan bau yang muncul dari area tertentu di layar. Tetapi di masa mendatang, ini bisa diterapkan di jendela toko atau di pusat belanja digital.

Dinding toko bahan makanan virtual milik Tesco’s, pertama kali diuji di stasiun kereta bawah tanah dan terminal bus di Korea Selatan sebelum diperkenalkan di Bandara Gatwick, telah menginspirasi peritel di bandara New Delhi India untuk menerapkannya juga. Di sini, pembelanja bisa memindai kode QR di telepon cerdasnya untuk membeli barang mewah, termasuk parfum, perhiasan, kamera dan ponsel cerdas. Inisiatif yang sama sedang diuji di Frankfurt, dan di ruang keberangkatan dalam negeri di banyak bandara dan terminal kota kelas-dua di Cina.

Studio multidisiplin seperti Think Big Factory mengusulkan bahwa tidak lama lagi seluruh ruang besar, seperti dinding dan lantai bandara ruang keberangkatan, juga bisa menjadi sangat interaktif.

TOM akan pindah ke lingkungan di mana perangkat lunak interaktif memungkinkannya memesan makanan atau barang dengan lambaian tangannya atau cukup dengan perintah verbal sederhana. Dan dia yakin bahwa pesanan akan segera diantar di mana pun posisi TOM di gedung terminal.

Setiap detik perjalanan di bandara akan sangat berarti. “Tanpa perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengantre, penumpang bisa membeli tawaran makanan dan minuman serta ritel yang jauh lebih menggoda,” beber Greg Fordham dari Airbiz.

Pengeluaran penumpang akan meningkat tajam dan area iklan bandara akan ditingkatkan untuk menghadirkan pengalaman yang tidak akan ditemukan di tempat lain.

TOM melakukan yoga di pavilion virtual bandara

Sambil bersantai setelah latihan yoga sejenak di paviliun virtual dan berenang di kolam renang infinity yang dikelilingi pemandangan pulau pilihan, TOM meminta Kecerdasan Artifisial yang dia pakai untuk memesan bahan kebutuhan sehari-hari dari dinding belanja virtual terdekat. Pesanannya akan sudah menunggunya di sana setiba di rumah.

TOM melakukan yoga di pavilion virtual bandara

Dia memberi tahu Teman Perjalanan Digitalnya kalau dia sedikit haus. Perangkat cerdas ini akan memesankan minuman favoritnya untuk diantar begitu pelancong bersandar di kursi yang persis sesuai dengan bentuk tubuhnya. Dia dininabobokkan oleh suara air terjun dan kicauan burung di tengah-tengah hutan atrium terminal.

Sekarang waktunya bersantai hingga perangkat lunak bandara memberi tahu bahwa penerbangannya siap boarding.

Anggota staf bandara dalam bentuk hologram 3D menginformasikan kepada TOM bahwa penerbangan sedang menunggunya

: Penerbangan di masa mendatang

TOM terbangun dari istirahatnya yang menyegarkan dan menemukan hologram 3D anggota staf bandara, yang diproyeksikan oleh perangkat lunak yang dibenamkan di terminal, muncul di sampingnya untuk memberi tahu bahwa penerbangan sudah menunggunya.

Hologram lain – yang masing-masing dihubungkan dengan rencana perjalanannya melalui perangkat yang dipakainya – memandunya dari kursinya di hutan, melalui terminal dan ke pintu boarding.

Ini skenario untuk perjalanan di tahun 2024 yang dibenamkan dalam teknologi bandara baru saat ini. Pakar keamanan holografik sudah dipasang untuk memandu orang melalui batasan keamanan real-time guna menghindari antrean dan penundaan akibat banyaknya pemberhentian dan pencarian.

Sistem panduan pribadi sedang diperkenalkan. Di Bandara Copenhagen, aplikasi telepon cerdas pencari jalan memandu masing-masing pengguna pada rute tercepat dan termudah di bandara ke pintu keberangkatan mereka.

TOM di pesawat bercakap-cakap dalam bentuk percakapan 3D dengan teman-teman dan keluarga di rumah

Dengan dihapusnya pemeriksaan kartu boarding dan oleh perangkat lunak check-in digital dan biometrik bandara, TOM berjalan ke pesawat.

Kabin dan tempat duduknya telah banyak berubah dibanding dasawarsa lalu. Kursinya menggunakan memory foam style agar sesuai bentuk tubuhnya dan pencahayaan cerdas kabin dirancang untuk meniadakan efek jetlag, dengan menggunakan lampu yang menghasilkan hormon tidur melatonin, seperti halnya yang dihasilkan tempat tidur terbaru Withings Aura.

Masing-masing kursi juga dilengkapi kontrol suhu,dan komunikasi holografik serta pusat hiburan yang memungkinkan TOM melakukan percakapan 3D dengan teman dan keluarga di rumah serta memutar film dan musik pilihannya.

Pengacak suara yang ditanamkan di sandaran kursinya akan mencegah penumpang lain mendengar percakapannya, sedangkan sarung tangan haptic – awalnya di Kelas Bisnis – akan memungkinkannya membelai anaknya, mencium istrinya atau berjabat tangan dengan kolega bisnis, merasakan sentuhan atau genggaman saat itu dilakukan.

TOM di pesawat bercakap-cakap dalam bentuk percakapan 3D dengan teman-teman dan keluarga di rumah

“Teknologi seperti ini sudah ada di tengah-tengah kita,” tutur Martin Raymond. Di acara seperti Consumer Electronics Show 2014 di Las Vegas, Anda sedang melihat versi generasi kedua dan ketiga perangkat ini – sekarang memang sangat mahal, tetapi diharapkan turun harga saat mencapai pemasaran massal.

Jadi dalam satu dasawarsa, seiring semakin banyaknya penumpang yang menyediakan hiburan sendiri dalam penerbangan, maskapai penerbangan harus memukau dengan teknologi hiburan yang jauh lebih baru dan imersif.

Tata ruang pesawat futuristik

Selain itu, kabin akan dibagi ke dalam berbagai zona untuk mengakomodasi kebutuhan penumpang yang ingin bersantai, berbaur dengan penumpang lain, atau menyantap pesanan makanan dari pramugari yang dilengkapi perangkat mobile cerdas sehingga memahami preferensi pelancong.

Ini adalah transformasi mengejutkan yang berakar dari kemajuan teknologi pesawat, dan keinginan-keinginan penumpang yang terlihat jelas hari ini. Riset konsumen Skyscanner mengungkapkan bahwa ruang tidur pesawat berbentuk kapsul banyak diinginkan penumpang. Hal ini sekaligus mengindikasikan besarnya kebutuhan untuk memikirkan kembali desain pesawat yang memungkinkan tidur nyenyak sebagai bagian dari paket standar.

Kebutuhan inilah yang mendorong Airbus mendesain Concept Cabin di mana kelas Pertama, Bisnis dan Ekonomi sudah ditiadakan untuk menghadirkan zona berbeda yang memungkinkan pelancong bersantai, bermain game, berinteraksi dengan penumpang lain, serta chatting dengan teman, keluarga dan kolega di darat melalui internet.

Beranjak dari konsep satu ukuran untuk semua, kursi yang berubah bentuk menawarkan tingkat kenyamanan berbeda dan mengakomodasi populasi obesitas yang semakin meningkat. Sementara organisasi riset Jerman Fraunhofer telah mengembangkan kontrol suhu internal yang bisa diatur oleh masing-masing penumpang.

Seorang konsultan desain aeronautik, Catherine Barber, memprediksikan bahwa pencahayaan cerdas dalam kabin akan membuat jetlag hanyalah pengalaman masa lalu di tahun 2020-an. Airbus percaya bahwa segala perabot dan perlengkapan akan mampu membersihkan diri sendiri di masa depan berkat inovasi dari alam seperti misalnya penutup yang kebal terhadap debu atau penutup yang dapat menyembuhkan diri sendiri.

TOM minum-minum dengan sesama penumpang di bar pesawat

Di samping itu, menurut laporan World Economic Forum 2013 Connected World Transforming Travel, Transportation and Supply Chains, komunikasi di pesawat untuk penumpang akan berubah drastis di akhir dasawarsa ini. Konektivitas 5G generasi berikutnya akan tersedia di pesawat masa depan, menjadikan download 100 Mb/s melalui broadband satelit canggih sebagai bagian dari paket standar.

Konsekuensinya, masing-masing kursi akan menjadi kombinasi ruang tamu mobile dan kantor virtual, yang dilengkapi film, musik dan data multimedia personal. Sistem hologram ala Skype memungkinkan chatting real-time dengan orang-orang terdekat TOM.

Duduk di kursi yang terhubung ke internet dan dilengkapi kontrol suhu, atau menyusuri zona berbeda kabin pesawat akan membuat TOM lupa waktu saat dia bepergian ke salah satu destinasi baru yang menarik dan menginspirasi di tahun 2024.

TOM bersantai di air terjun di bandara

: Kesimpulan

Pada pertengahan dasawarsa berikutnya, perjalanan dari rumah ke kursi pesawat akan nyaris tak terasa dibandingkan dengan pengalaman yang sering memakan waktu dan menyebabkan stres di tahun 2014.

Perjalanan ke bandara akan sangat menyenangkan sementara pelancong menghabiskan waktu berselancar di situs atau chatting dengan teman dan keluarga dalam taksi yang dilengkapi teknologi realitas maya dan terhubung ke dunia maya.

Dia akan sangat menanti-nanti kedatangannya di bandara yang sudah ditransformasi dari stasiun transit menjadi Aeroville mewah, dengan kursi sesuai bentuk tubuh, dinding virtual tempat dia bisa berbelanja, bioskop 3D, kolam renang rooftop dan pusat yoga yang ditata di tengah-tengah hutan atrium.

Pemindai molekuler, label koper digital, dan teknologi pengenal wajah dan retina akan meniadakan antrean di pemeriksaan keamanan dan loket check-in. Anggota staf holografik akan dengan praktis memandu pelancong ke kursinya yang sesuai dengan bentuk tubuhnya serta dilengkapi multimedia 3D dan koneksi internet sebagai kelengkapan standar.

Bagian 3: Destinasi & Hotel
Scroll Down

Lanskap Perjalanan Era 2020-an

Untuk memahami destinasi pelancong tahun 2020-an, kita perlu mempertimbangkan faktor teknologi, ekonomi, dan sosial yang membentuk industri perjalanan global dalam 10 tahun mendatang.

Faktor yang paling berpengaruh bisa jadi adalah pertumbuhan kematangan digital. Pada 2014, dunia maya dan teknologi terkait bukan lagi hal baru, melainkan sudah menjadi bagian dari seluruh aspek kehidupan.

Menurut Pusat Informasi Jaringan Internet China, saat ini ada 464 juta orang atau 34,5 persen dari total penduduk yang mengakses internet melalui ponsel pintar atau perangkat nirkabel. Asia juga akan terus mengalami pertumbuhan kelas menengah yang pesat—diprediksi tumbuh tiga kali lipat menjadi 1,7 miliar pada tahun 2020, menurut Brookings Institution—yang dengan daya belinya akan membentuk perilaku dan sikap baru secara global terhadap teknologi digital.

Pada 2024, konektivitas internet—dan perangkat mobile yang dapat mengakses internet–akan menjadi sebuah kebutuhan dasar. Teknologi tersebut tidak akan lepas dari aktivitas keseharian para pelancong, baik di negara maju maupun negara berkembang. Menurut Cisco System, pada 2020 akan ada 50 miliar peranti yang tersambung ke internet.

Secara bersamaan, terjadi peningkatan perjalanan wisata secara tajam dari Pasar Berkembang yakni dari benua Asia, Amerika Selatan dan Afrika—yang merupakan kekuatan ekonomi baru—seiring dengan meningkatnya daya beli mereka secara signifikan.

Pada 2030, benua Asia, kawasan regional dengan kekuatan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, akan melipatgandakan pendapatan GDP-nya hingga 67 triliun dolar Amerika. Menurut Boston Consulting Group, pendapatan tersebut melampaui proyeksi gabungan GDP Eropa dan Amerika.

Jutaan pelancong dari Pasar Berkembang memasuki era Mobilitas Global, dengan industri pariwisata global—itu sebabnya permintaan kesempatan dan pengalaman berwisata—berkembang pesat dalam satu dekade mendatang.

World Travel & Tourism Council (Dewan Perjalanan & Pariwisata Dunia) juga memperkirakan pertumbuhan pariwisata secara global pada 2013 sebesar 3,2 persen, yang melampaui prediksi pertumbuhan sebesar 2,4 persen dalam GDP global. Selisi ini lebih terasa di area kekuatan ekonomi baru pada tahun 2012, di mana China dan Afrika Selatan mencantumkan pertumbuhan pariwisata tahunannya sebesar 7 persen dan Indonesia mengalami peningkatan sebesar 6 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan Pasar Berkembang menjadi sebuah oase di tengah krisis ekonomi global yang masih berlanjut dan mengubah pola perilaku wisatawan di area Pasar yang Melambat (Pruned Markets)—kawasan Eropa dan Amerika Serikat mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir akibat kejatuhan ekonomi dan kebijakan penghematan yang diterapkan.

Seperti yang dijabarkan dalam laporan Tren Pariwisata Global IPK International pada tahun 2012/2013, terjadi penambahan jumlah negara yang gagal membayar hutangnya sehingga krisis hutang belum berakhir dan berdampak negatif terhadap perilaku berwisata. Kondisi ini disebut juga dengan istilah 'pelambatan mobilitas'—di mana Eropa Barat, AS, dan Jepang tidak bisa dikecualikan.’

Faktor terakhir yang akan membantu membentuk industri pariwisata global tahun 2020-an adalah faktor sosial. Bom Waktu Demografi diam-diam mengancam karena usia populasi dunia dalam tingkatanyang tidak terduga.

Pada abad yang lalu kita menyaksikan penurunan tingkat kematian tercepat dalam sejarah. Seperti yang dilansir dari data PBB, usia harapan hidup penduduk dunia meningkat dari 47 tahun pada 1950–1955 menjadi 69 tahun pada 2005–2010.

Pada 1950, anak-anak di bawah usia 15 tahun berjumlah dua kali lipat dibandingkan orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Maka pada 2050, jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas akan melebihi jumlah anak-anak dengan rasio dua banding satu.

Oleh karena itu, pada 2024, wisatawan kami akan melakukan perjalanan di mana kebutuhan akan pengalaman baru dari pasar berkembang menyeimbangkan kondisi di Eropa dan AS (Pruned Markets) yang masih berusaha pulih dari krisis moneter.

Dan, penggunaan teknologi digital terkini dalam setiap aspek berwisata, mulai dari proses pencarian, pemesanan, transit, hingga penerbangan akan menjadi sebuah kebutuhan—praktis dan berjalan natural.




Artikel yang terkait

Metodologi penelitian

Laporan Skyscanner ini adalah karya 56 tim editor, peneliti, dan networker masa depan yang kuat di kota-kota internasional utama untuk menghasilkan gambaran detail tentang terobosan teknologi 10 tahun mendatang dan destinasi baru menarik yang akan membentuk industri perjalanan global pada tahun 2020-an.

Pakar

Kami mengeksplorasi teknologi dan perilaku perjalanan di masa mendatang dengan mempelajari berbagai keahlian para pakar ternama di dunia, termasuk Futuris, Daniel Burrus, penulis Technotrends: How to Use Technology to Go Beyond Your Competition, dan Futurolog Perjalanan, Dr Ian Yeoman.

Kami juga memanfaatkan pelajaran latar belakang yang diberikan pakar strategi digital, Daljit Singh, Chief Envisioning Officer Microsoft di Inggris, Dave Coplin, Executive Creative Director Google Creative Lab, Steve Vranakis, Kevin Warwick, Profesor Sibernetika di Reading University, dan Martin Raymond, Asisten Pendiri Future Laboratory serta penulis CreATE, The Tomorrow People, dan Buku Pegangan The Trend Forecaster.

Dari Skyscanner, pakar berikut juga dimintai gagasan, keahlian dan jika memungkinkan dikutip langsung dalam laporan ini, yakni Margaret Rice-Jones, Chairman, Gareth Williams, CEO dan Asisten Pendiri, Alistair Hann, CTO, Filip Filipov, Kepala B2B, Nik Gupta, Direktur Hotel, dan Dug Campbell, Manajer Pemasaran Produk.

Selain itu, kami menggunakan jaringan online The Future Laboratory, LS:N Global, untuk melengkapi penelitian, serta temuan dari seri tahunan laporan Masa Depan milik The Future Laboratory tentang perjalanan, teknologi, makanan, dan horeka.




Artikel yang terkait

Karya seni


Masa Depan Travel 2024 - Bagian 2 PDF (2.5Mb)







Masa Depan Travel 2024 - Bagian 3 PDF (2.5Mb)







Artikel yang terkait

Hubungi kami

Untuk informasi lebih lanjut tentang laporan ini, silakan hubungi:

Tika Larasati

tika.larasati@skyscanner.co.id

(65) 3157 6136

Untuk informasi lebih lanjut tentang Skyscanner, kunjungi : www.skyscanner.co.id

Bergabunglah dengan kami di:




Artikel yang terkait