Bagian 3: Destinasi & Hotel

Pengalaman wisata menarik dan seru yang menunggu wisatawatan di tahun 2020-an

Bagian tiga mengeksplorasi banyak pilihan destinasi baru dan menarik yang dapat dipilih oleh TOM (Traveller of the Millenium), pengalaman yang akan ditemui dan di mana dia akan tinggal.

TOM tinggal di hotel luar angkasa

Ruang Hotel Masa Depan

Sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk teknologi perhotelan, dan pada dekade berikutnya kita akan melihat kamar hotel yang sekarang ini terasa akrab bagi kita akan benar-benar berubah demi kenyamanan TOM dan kemudahan digital.

Director of Hotels Skyscanner, Nik Gupta, menggambarkan bentuk hotel yang menarik di masa depan. “10 tahun mendatang, kemajuan teknologi digital akan memungkinkan wisatawan untuk tidak perlu lagi berurusan dengan manusia dari sejak mereka memasuki (check in) hotel yang mereka pilih sampai waktu mereka keluar (check out) dari kamar mereka,” katanya.

Perjuangan melawan wisata peer-to-peer (P2P) akan memaksa hotel memberdayakan tamu mereka dengan hiper-personalisasi hingga tingkat yang luar biasa melalui perangkat mobile mereka untuk memberikan pengalaman unik yang mereka inginkan.

TOM mengganti temperatur kamar hotelnya dengan menggunakan perangkat tablet

'Peranti lunak hotel akan mengakses dan melakukan pencocokan profil media sosial tamu sehingga mereka dapat memesan kamar tertentu yang segala sesuatunya sudah diatur khusus untuk mereka.

Para tamu akan diperlengkapi dengan daftar aktivitas, makan di restoran mana dan pertunjukan teater apa yang hendak ditonton, yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka masing-masing.

Pada 2024, TOM akan menikmati berbagai teknologi intuitif dan tertanam yang dapat digunakannya dengan leluasa dari sejak dia memasuki kamarnya, yang memungkinkannya menciptakan pengalaman tinggal di hotel yang betul-betul pribadi.

Tanda-tanda awal dari tren ini sudah tampak di The Peninsula Hong Kong, tempat para tamu dapat menggunakan perangkat tablet untuk mengontrol lampu, tirai, suhu dan televisi, memesan makan malam, memesan tempat spa dan merencanakan perjalanan.

Demikian juga dengan brand Hilton Conrad yang telah memanfaatkan teknologi baru melalui aplikasi perhotelan mereka, Conrad Concierge App, yang memungkinkan para tamu untuk melakukan ultra-personalisasi saat menginap dengan memilih fasilitas mandi yang mereka sukai atau membuat pilihan sarapan melalui smartphone saat joging di taman terdekat, misalnya.

TOM memilih tampilan di dinding kamar hotel interaktif

Futurolog Ian Pearson memperkirakan bahwa kamar hotel dalam waktu dekat akan membawa teknologi ini ke tingkat yang baru. Kamar tidur hotel akan mengintegrasikan bantal dengan perangkat elektronik yang tertanam di dalamnya yang mampu memberikan pijatan pada kepala dan leher hingga terlelap dan membangunkan di pagi hari, dan akan tersedia pula sistem hologram yang memproyeksikan gambar 3D dari pelatih pribadi, karakter film, atau bahkan teman-teman dan keluarga. Dia bahkan memprediksi bahwa, di masa depan, hotel akan menyediakan baju tidur yang diperlengkapi sensor untuk para tamu, dan sensor ini dapat memonitor kadar gula darah serta menawarkan saran diet yang relevan.

Kemajuan dalam kesehatan dan kesejahteraan para tamu sudah terlihat di ruang Stay Well di MGM Grand di Las Vegas, yang memiliki pencahayaan ruangan yang dirancang untuk menormalkan jam internal tamu yang mengalami jetlag, air pancuran untuk mandi yang mengandung vitamin C, udara yang disaring melalui filter pemurnian udara canggih, dan pemberian aromaterapi opsional.

Tapi kita juga mulai melihat desainer dan pelaku bisnis perhotelan membuat kamar dan ruang ambien yang lebih interaktif dan kondusif yang dapat berubah sesuai dengan suasana hati dan kebutuhan penghuni ruang hotel.

Kamar hotel masa depan rancangan studio desain Serrano Brothers dari Spanyol memperlihatkan sebuah ruangan dengan dinding interaktif, mampu menampilkan film, gambar yang menakjubkan, potret keluarga dan pesan dalam format video dari teman-teman.

Selain itu, dinding tersebut dapat menciptakan efek berkabut laksana tirai, yang menciptakan ruang pribadi untuk mandi dan berganti pakaian di ruangan yang terkecil sekali pun.

Menurut majalah New Scientist, munculnya layar TV gaya wafer dan dinding digital berteknologi Organic Light-Emitting Diode (OLED) dengan ukuran besar dari beberapa brand seperti misalnya News Digital Systems (NDS) menandai kedatangan dinding ruang hotel interaktif yang berfitur lengkap.

Dikendalikan oleh aplikasi sederhana di ponsel, layar ini tidak perlu pencahayaan samping dan dapat memperlihatkan gambar di dinding tunggal layar yang dipasang bersama-sama seperti ubin.

TOM mandi di kamar mandi hotel futuristik dengan pencahayaan chromatherapeutic

Namun inovasi yang direncanakan tidak berhenti sampai di situ saja. Bahkan kamar mandi hotel yang sudah didesain dan diperlengkapi demikian majunya akan mengalami revolusi dalam desainnya, seperti meter cerdas yang digunakan untuk mengurangi penggunaan air sementara sensor gerak dan panel samping galvanik akan tertanam dalam kamar mandi untuk mengubah suhu, aliran air, pola air dan mengeluarkan vitamin C. Sementara itu, akan tersedia pencahayaan chromatherapeutic pada bak mandi, yaitu violet untuk mengendurkan otot, kuning untuk membantu pencernaan atau biru lembut untuk menstimulasi dan memulihkan energi.

Prototipenya sudah dibuat untuk sikat gigi dan mesin cuci, mandi masa depan akan menggunakan teknologi suara untuk benar-benar membuang kotoran dari tubuh kita. Susunan pencahayaan, dari merah ke hijau, akan menunjukkan seberapa bersih tubuh kita setelah mandi.

“Ini baru perkembangan awal,” kata The Future Laboratory Co-founder Martin Raymond. “Tapi teknologi ini sudah ada. Masalah besar yang dihadapi para ilmuwan adalah dampak dari suara frekuensi tinggi terhadap gendang telinga. Mereka dapat merusaknya. Jadi, untuk saat ini, kita mungkin melihat teknologi semacam ini digunakan untuk membersihkan seprai tempat tidur hotel.”

Sistem Cyber Mirror yang dikembangkan oleh Cybertecture akan mengubah cermin seukuran badan menjadi layar sentuh sehingga segala sesuatu yang tersimpan di cloud dengan teknologi cloud computing sekarang dapat diakses ketika tamu menyikat gigi, sementara jauh di masa depan printer 3D gaya MakerBot akan tersedia di kamar hotel untuk mencetak fasilitas kamar mandi seperti pasta gigi dan sabun.

Pesawat ruang angkasa siap meluncur

Menuju ke Atas dan Menuju ke Bawah

Pada sekitar 2024, ruang angkasa akan menjadi batas terakhir untuk TOM karena perjalanan ke orbit bumi menjadi lebih terjangkau untuk pasar ultra-mewah. Resor bawah laut - sudah menjadi kenyataan di beberapa tujuan wisata di seluruh dunia - akan menjadi tujuan wisata utama dalam agenda wisata.

Wisata Luar Angkasa

Saat ini, perusahaan swasta saling berlomba untuk membuat orbit bumi menjadi tujuan wisata untuk orang-orang yang mempunyai cukup uang dan bukan tempat yang hanya bisa dikunjungi oleh para miliarder. Ada beberapa proyek ruang angkasa yang bahkan sangat ambisius, yaitu berupaya mewujudkan penerbangan komersial ke Mars.

Seperti yang dikatakan futuris Daniel Burrus bahwa, “Pada beberapa dekade mendatang, kita akan mampu melakukan perjalanan ruang angkasa dengan biaya yang lebih terjangkau di mana kita bisa tinggal cukup lama di atas sana untuk menikmati lingkungan yang menarik dan asing.

Balon helium berteknologi tinggi terbiasa terbang ke sisi-sisi luar atmosfir bumi

“Tetapi perjalanan ke orbit rendah Bumi dengan biaya relatif terjangkau yang memungkinkan Anda untuk menikmati keadaan tanpa bobot selama beberapa menit – dan pantas dibangga-banggakan - akan segera menjadi kenyataan.”

Perlombaan menyelenggarakan perjalanan ruang angkasa akan membawa wisatawan pemberani ke tepi luar dari atmosfer planet kita.

Mulai 2016, World View Enterprises akan membawa penumpang sejauh 30 km di atas permukaan bumi di dalam kabin bertekanan yang digantungkan di bawah balon udara berteknologi tinggi berkapasitas 400,000 meter kubik.

Dengan tiket seharga US$ 75.000, Anda akan dapat menikmati pemandangan yang sebelumnya hanya dapat dinikmati oleh astronot – lengkung bumi yang menakjubkan dari posisi yang teramat tinggi.

Perjalanan ruang angkasa ke orbit Bumi akan menjadi komoditi populer berikutnya dan perusahaan-perusahaan komersial tengah berlomba membuat penawaran yang lebih terjangkau. SpaceX mengumumkan terobosan teknologi roket re-useable pada 2011 dan sedang mengembangkannya lebih lanjut melalui peluncuran versi pesawat ruang angkasa terbaru mereka pada Mei 2014 sebagai bagian dari upaya mereka mewujudkan ambisi membangun koloni di Mars.

Bangunan futuristik di bulan

The European Space Agency dan firma arsitektur Foster + Partners juga mengumumkan rencana untuk membangun koloni, kali ini di Bulan. Konstruksi tiup akan diangkut dari Bumi, kata para peneliti, kemudian ditutup dengan kerangka yang dibuat dengan menggunakan printer 3D.

CEO Skyscanner, Gareth Williams, berkomentar bahwa “Tidak diragukan lagi, pariwisata ruang angkasa akan tumbuh dan menjadi lebih murah. Tetapi apa yang terjangkau bagi masyarakat umum adalah persoalan arbitrer mengingat kita hidup di planet yang dihuni oleh 7 miliar orang.

“Saya rasa kita akan melihat tempat tinggal di Mars dan ambisi Mars One atau visi Elon Musk menjadi kenyataan bahkan sebelum perjalanan ruang angkasa menjadi cukup umum dan cukup terjangkau bagi masyarakat umum.”

Bagi mereka yang berminat melakukan perjalanan ruang angkasa tetapi tidak selera dengan harga selangit yang ditawarkan perjalanan semacam itu, Mobilona Space Hotel, Barcelona Island, bisa menjadi alternatif.

Diperlengkapi dengan spa hampa gravitasi, pesawat terbang layang dan observatorium ruang angkasa, hotel yang berbasis di Bumi ini akan memungkinkan para tamu untuk “menikmati” perjalanan ruang angkasa dengan menawarkan pemandangan kehidupan galaksi melalui jendela kabin dan bahkan perasaan tanpa bobot dari terowongan angin vertikal.

Pesawat ruang angkasa ber-orbit rendah terbang mengelilingi bumi

Namun seperti yang dikemukakan oleh Senior Manager Strategy Skyscanner, Filip Filipov, bahwa hal yang lebih mendebarkan ketimbang liburan di ruang angkasa, baik nyata ataupun tidak, adalah kemungkinan melakukan penerbangan dengan pesawat ruang angkasa orbit rendah yang secara radikal akan menghemat waktu penerbangan antar-benua.

“Perjalanan ruang angkasa akan menjadi tonggak sejarah baru bagi umat manusia,” katanya, terutama jika Virgin Galactic dan SpaceX berhasil mewujudkan misi mereka.

“Tetapi yang bahkan lebih menarik adalah transfer teknologi yang disumbangkan oleh eksplorasi ruang angkasa bagi penerbangan komersial. Dalam kasus Virgin Galactic, yang kapalnya dapat mengorbit Bumi selama 2,5 jam, seorang wisatawan reguler mungkin dapat terbang dari London ke Sydney selama 2,5 jam jika teknologi atmosphere-hopping yang digunakan untuk perjalanan ruang angkasa dapat diterapkan dengan aman untuk penerbangan komersial. Ini akan membuat perjalanan lebih mudah dan lebih cepat daripada sebelumnya, merobohkan sekat-sekat waktu.”

TOM sedang duduk di kursi ketika berada di kamar hotel bawah laut

Petualangan Bawah Laut

Perjalanan ke dasar lautan akan menjadi pilihan populer yang lain untuk TOM, dan lebih terjangkau dibandingkan dengan perjalanan ruang angkasa.

Kamar hotel bawah laut sudah tersedia sebagai tujuan wisata baru yang khusus dan menguntungkan. Suite Neptunus dan Poseidon di Atlantis Hotel di The Palm di Dubai digadang-gadang sebagai tempat persembunyian romantis dengan dinding kaca panorama yang menampakkan lautan yang penuh dengan kawanan ikan berwarna-warni. The Jules Undersea Lodge di Florida - yang dibangun menggunakan teknologi dan material untuk kapal selam - telah membuat para tamu mampu untuk hidup 31 kaki di bawah air sejak tahun 1986.

Water Discus Hotel di Dubai

Sekarang, gelombang baru inovator wisata sedang meningkatkan konsepnya, yaitu mereka berupaya membangun keseluruhan hotel di bawah gelombang laut dan bukan hanya kamar tunggal atau suite, yang menunjukkan bahwa liburan bawah air akan menjadi penawaran yang cukup umum di bisnis wisata pada 2024.

The Water Discus Hotel di Dubai adalah hotel pertama dengan konsep seperti tersebut di atas.

Hotel yang rencananya dibuka pada 2015 tersebut akan dibangun 9 meter di bawah permukaan laut dengan jendela jendela bergaya akuarium di 21 suite dan fasilitas yang akan memungkinkan para tamu untuk pergi ke luar dengan peralatan menyelam. Diperlengkapi dengan spa, kebun dan kolam renang, hotel ini akan dapat berotasi di bawah air dan naik ke permukaan dalam waktu 15 menit dalam keadaan darurat.

CEO Skyscanner Gareth Williams memprediksi bahwa wisata bawah air akan mengalahkan wisata ruang angkasa pada 2020an. “Saya kira eksplorasi dan pariwisata bawah air akan berkembang lebih cepat daripada wisata ruang angkasa. Dan saya kira orang akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari wisata bawah air karena ada lebih banyak hal untuk dilihat di sana daripada di ruang angkasa,” katanya.

TOM diluar akomodasi liburannya

Lebih dekat dan pribadi
Pencarian pengalaman yang personal

Pada 2024, wisata peer-to-peer dan hotel home-from-home akan menjadi pilihan wisatawan dalam memuaskan keinginan mereka untuk mengeksplorasi tujuan wisata melalui mata penduduk setempat.

Wisata kolaboratif home-swapping, yang dipelopori oleh brand seperti Airbnb, lahir tak lama setelah krisis keuangan global 2008 menerpa, ketika konsumen yang amat membutuhkan uang tunai mulai menginginkan pengalaman lokal yang otentik ketimbang kemewahan sebelum krisis.

Pada 2013, pendapatan yang mengalir langsung ke dompet masyarakat dalam sistem perekonomian kolaboratif di AS - yang mencakup berbagai layanan seperti Parking Panda, SnapGoods dan On Liquid - diperkirakan mencapai US$ 3.5 miliar, menurut Forbes.

TOM di event klub makan malam

Dan itu bukan hanya pilihan akomodasi yang memungkinkan pengunjung untuk hidup seperti penduduk setempat, tetapi juga pengalaman bersantap.

Klub makan malam – yaitu menghabiskan malam dengan menikmati hidangan makan malam gratis yang diselenggarakan oleh para penggiat masakan setempat di rumah mereka sendiri - juga telah menjadi tren. Find a Supper Club, yaitu situs web untuk mereka yang menjalankan klub di rumah mereka di Eropa dan Amerika Serikat, kini memiliki hampir 7.000 anggota.

Pada dekade berikutnya, pergeseran konsumen ke perilaku kolaboratif ini akan memiliki konsekuensi luar biasa untuk industri perjalanan global. “Di masa depan, saya pikir cukup banyak kamar hotel yang akan dipesan oleh mereka yang melakukan wisata kolaboratif,” kata Joseph Pine II B, salah seorang penulis buku The Experience Economy: Work is Theatre and Every Business a Stage, and rekan pendiri Strategic Horizons.

“Saya percaya ada sekitar 5-10% penduduk yang menyewakan rumah mereka kepada wisatawan - dan itu jumlah yang benar-benar besar. Bagi mereka yang mencari pengalaman perjalanan otentik dengan biaya terjangkau di negara maju, saya rasa tidak ada yang seperti itu.”

Tablet menunjukkan map dunia

Futuris Daniel Burrus sangat cepat dalam menyoroti dampak media sosial terhadap industri perjalanan dan pencarian untuk pengalaman wisata yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan kita. “Wisata sosial akan menjadi bagian yang kian formal dari industri perjalanan dalam lima tahun ke depan. Perangkat media sosial akan digunakan untuk membantu kolaborasi antara wisatawan dan orang-orang di tempat tujuan wisata pilihan mereka,“ katanya.

Filip Filipov dari Skyscanner memprediksi bahwa tren ini akan terus berkembang hingga 2020an.

“Layanan dan wisata crowdsource sukses karena kita mempercayai teman-teman dan keluarga kita. Suara orang banyak memiliki kredibilitas, ”katanya. “Ini bagian yang menakjubkan dari cara kita membuat keputusan dan menemukan potensi wisata baru.”

TOM mengambil foto seekor badak

Wisatawan pertama dan terakhir
Daerah yang baru terakses dan habitat yang hilang

Dengan pertumbuhan media sosial yang tidak menunjukkan tanda-tanda melandai, upaya mengukuhkan sikap membangga-banggakan pengalaman atau pencapaian yang dapat dibenarkan (bragging rights) di kalangan wisatawan akan terus menjadi motivator utama di bisnis wisata pada 2024.

Seperti yang dilakukan oleh banyak wisatawan sekarang ini, TOM mungkin tertarik untuk menambah pengalaman perjalanan yang unik yang akan membuat iri teman-teman dan keluarganya dan diperkirakan ia akan memiliki dua cara bertentangan untuk melakukannya.

Perjalanan ke salah satu Forbidden Zones - negara dan wilayah yang semula dianggap tidak dapat diakses karena konflik atau masalah politik - akan memungkinkan dia untuk menyombongkan diri bahwa dia termasuk orang pertama yang pergi ke sana, sedangkan bepergian melihat habitat atau spesies yang terancam kepunahan akan memberinya pujian karena dia termasuk orang yang terakhir kali menyaksikan habitat atau spesies tersebut.

Karena kelangkaannya, dan perlunya memfokuskan komunitas global untuk melihat betapa tempat-tempat ini nyaris punah, maka ahli lingkungan mempertimbangkan langkah radikal untuk membuka wilayah-wilayah terlarang tersebut bagi wisatawan berpengaruh dan bersedia membayar ongkos perjalanan yang mahal , dan yang dapat menggunakan pengaruh keuangan dan media sosial yang mereka miliki untuk mengingatkan orang mengenai apa yang sedang terjadi.

Eksekutif Skyscanner, Filip Filipov, memprediksi bahwa wisata Forbidden Zone akan menjadi sangat menarik pada 2020-an. “Wisatawan dari negara maju maupun dari dunia berkembang akan sama-sama mencari sensasi baru - yaitu kesempatan untuk menjelajahi negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang belum pernah dikunjungi oleh teman-teman mereka, ”katanya.

Ledakan wisata Cina akan menjadi salah satu pendorong wisatawan dalam mengeksplorasi Forbidden Zones yang terpencil. “Akan ada banjir wisatawan Cina ke tujuan-tujuan wisata klasik seperti Paris, Roma dan New York pada 2020-an,” kata Daniel Burrus.

“Banyak orang akan berpaling dari tempat-tempat klasik ini karena kondisinya yang begitu penuh sesak dan menggunakan perangkat e-agent mereka untuk mencari tempat-tempat indah yang tersembunyi dan belum banyak diketahui khalayak ramai.”

Futurolog wisata Dr Ian Yeoman setuju. “Pada 2020-an, negara-negara seperti Afghanistan, Korea Utara dan Iran akan menjadi sangat menarik karena wisatawan ingin menjadi orang pertama yang mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi oleh teman-teman mereka ,” katanya.

“Di Afrika, Botswana adalah salah satu tempat wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Negeri ini memiliki ekonomi yang maju, dan lebih aman daripada Afrika Selatan serta terdapat taman-taman nasional yang bagus di sana. Angola juga menerima banyak investasi dari Tiongkok dan berpotensi berkembang pesat.

“Lebanon akan menjadi Dubai baru jika situasi politik terus membaik. Dan Bhutan akan menjadi salah satu pemain global utama dalam bisnis wisata mewah. ”

hewan

Menjadi orang pertama yang mengunjungi Forbidden Zone dapat mengangkat status sosial wisatawan yang memiliki cukup keberanian pada 2024. Demikian pula halnya menjadi orang terakhir yang melihat badak, harimau atau orangutan di habitat asli mereka, atau mengunjungi suku yang 'hilang' sebelum mereka terasimilasi ke dalam budaya global yang pengaruhnya sulit dibendung.

Sebagaimana dikemukakan oleh Raynald Harvey Lemelin, Co-editor dari buku Last Chance Tourism: Adapting Tourism Opportunities in a Changing World:

“Di masa lalu, motivasi 'menjadi yang pertama' memacu orang untuk mengunjungi tujuan-tujuan wisata yang eksotis. Tapi di dunia yang cepat berubah seperti sekarang ini, dorongan untuk menjadi yang 'terakhir' adalah fenomena wisata baru.”

Satu jenis dari tren wisata ini adalah 'perlombaan menuju kepunahan' ('extinction race') karena wisatawan, terutama dari negara maju, terpacu untuk melihat spesies yang mungkin akan segera punah dari habitat aslinya.

“Banyak wisatawan kami saat ini terpacu untuk melihat beruang kutub sebelum hewan ini sepenuhnya terdampak pemanasan global,”

kata Rick Guthke, General Manager of specialist tour operator Natural Habitat Adventures. Puluhan ribu wisatawan berduyun-duyun pergi ke bagian utara Kanada untuk melihat beruang kutub sebelum lautan es yang mencair cepat menghalangi beruang kutub mencapai wilayah perberburuan anjing laut tradisional mereka.

hewan

Spesies lainnya yang terancam kepunahan dan yang dipercayai ilmuwan akan punah pada dekade mendatang termasuk penyu belimbing (Samudera Hindia), tamarins berwajah telanjang (Manaus, Brasil), badak hitam (Afrika Barat), buaya Cina (sungai Yangtze), kelelawar berekor sarung (Seychelles), kijang Dama (Chad), unta Baktria (Gurun Gobi), wombat hidung berbulu (Australia), lynx Iberia (Spanyol), dan orangutan sumatera (Kalimantan dan Sumatera).

Namun seperti dilansir The Daily Telegraph, banyak konservasionis setuju bahwa pendapatan dari sektor pariwisata berperan penting dalam keberhasilan upaya mempertahankan kelangsungan hidup spesies yang terancam kepunahan.

“Intinya adalah: jika kita meninggalkan pariwisata, kita meninggalkan konservasi,” kata ahli satwa liar Kenya Jonathan Scott. “Ketika orang bertanya kepada saya, “Apa yang bisa kami bantu?” Kami jawab: “Dengan mengikuti safari. “Pariwisata berbasis margasatwa bukan pilihan tapi sebuah kebutuhan. Pariwasata tersebut membayar ongkos perawatan taman margasatwa dan hewan-hewan di dalamnya sehingga mereka terurus dengan baik. Tanpa pemasukan dari wisatawan, Anda sama saja seperti menyerahkan semua satwa liar yang tersisa untuk para pemburu liar.

Pandangan ini akan mendorong TOM untuk berpartisipasi dalam program ekowisata di masa depan, guna menunjukkan dukungannya terhadap upaya-upaya mempertahankan spesies yang terancam kepunahan, sekaligus memenuhi keinginannya sendiri untuk melihat spesies atau habitat sebelum mereka betul-betul punah.

'Ego-wisata itu sejenis eko-wisata. Dahulu orang mencari tempat-tempat baru untuk menjadi yang pertama sampai ke sana, tapi sekarang mereka ingin melihat tempat tertentu sebelum tempat tersebut lenyap, 'kata Rosaleen Duffy, penulis buku Nature Crime: How We’re Getting Conservation Wrong.

Kesimpulan

Pada sekitar 2024, tidak hanya kamar hotel tempat TOM tinggal yang akan berubah total karena kemajuan teknologi, tetapi wilayah tujuan wisata tempat hotel tersebut berdiri akan berubah juga dengan munculnya resor, sektor regional dan format yang baru.

Suite hotel hiperpersonal akan memiliki dinding interaktif yang dapat diaktifkan dengan sentuhan yang berfungsi sebagai layar video, pusat komunikasi, atau bahkan berubah menjadi tirai ruang privasi yang berkabut. Mandi Vitamin C, pintu berpemindai retina, bantal pijat elektronik yang memberi pijatan hingga Anda tertidur dan pelatih pribadi holografik akan menjadi bagian dari paket yang diharapkan.

Tujuan wisata populer pada dekade mendatang akan mencakup perjalanan - dan bahkan tinggal - di orbit Bumi, liburan di hotel bawah air dan perjalanan untuk menjadi orang pertama yang mengunjungi negara-negara yang dulunya bermasalah di Asia, Afrika dan Timur Tengah - atau menjadi orang terakhir yang menyaksikan spesies atau habitat yang terancam perubahan iklim atau perambahan manusia.

Melihat lebih dekat dan personal penduduk setempat - dan lingkungan mereka - akan memperoleh momentum kolaboratif lebih lanjut di pertengahan 2020-an ketika jutaan orang menyewakan rumah mereka untuk wisatawan, sedangkan hotel dan resor membangun suasana dan karakteristik peer-to-peer, menjadi tempat senyaman di rumah sendiri.

Kesimpulan
Scroll Down

Lanskap Perjalanan Era 2020-an

Untuk memahami destinasi pelancong tahun 2020-an, kita perlu mempertimbangkan faktor teknologi, ekonomi, dan sosial yang membentuk industri perjalanan global dalam 10 tahun mendatang.

Faktor yang paling berpengaruh bisa jadi adalah pertumbuhan kematangan digital. Pada 2014, dunia maya dan teknologi terkait bukan lagi hal baru, melainkan sudah menjadi bagian dari seluruh aspek kehidupan.

Menurut Pusat Informasi Jaringan Internet China, saat ini ada 464 juta orang atau 34,5 persen dari total penduduk yang mengakses internet melalui ponsel pintar atau perangkat nirkabel. Asia juga akan terus mengalami pertumbuhan kelas menengah yang pesat—diprediksi tumbuh tiga kali lipat menjadi 1,7 miliar pada tahun 2020, menurut Brookings Institution—yang dengan daya belinya akan membentuk perilaku dan sikap baru secara global terhadap teknologi digital.

Pada 2024, konektivitas internet—dan perangkat mobile yang dapat mengakses internet–akan menjadi sebuah kebutuhan dasar. Teknologi tersebut tidak akan lepas dari aktivitas keseharian para pelancong, baik di negara maju maupun negara berkembang. Menurut Cisco System, pada 2020 akan ada 50 miliar peranti yang tersambung ke internet.

Secara bersamaan, terjadi peningkatan perjalanan wisata secara tajam dari Pasar Berkembang yakni dari benua Asia, Amerika Selatan dan Afrika—yang merupakan kekuatan ekonomi baru—seiring dengan meningkatnya daya beli mereka secara signifikan.

Pada 2030, benua Asia, kawasan regional dengan kekuatan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, akan melipatgandakan pendapatan GDP-nya hingga 67 triliun dolar Amerika. Menurut Boston Consulting Group, pendapatan tersebut melampaui proyeksi gabungan GDP Eropa dan Amerika.

Jutaan pelancong dari Pasar Berkembang memasuki era Mobilitas Global, dengan industri pariwisata global—itu sebabnya permintaan kesempatan dan pengalaman berwisata—berkembang pesat dalam satu dekade mendatang.

World Travel & Tourism Council (Dewan Perjalanan & Pariwisata Dunia) juga memperkirakan pertumbuhan pariwisata secara global pada 2013 sebesar 3,2 persen, yang melampaui prediksi pertumbuhan sebesar 2,4 persen dalam GDP global. Selisi ini lebih terasa di area kekuatan ekonomi baru pada tahun 2012, di mana China dan Afrika Selatan mencantumkan pertumbuhan pariwisata tahunannya sebesar 7 persen dan Indonesia mengalami peningkatan sebesar 6 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan Pasar Berkembang menjadi sebuah oase di tengah krisis ekonomi global yang masih berlanjut dan mengubah pola perilaku wisatawan di area Pasar yang Melambat (Pruned Markets)—kawasan Eropa dan Amerika Serikat mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir akibat kejatuhan ekonomi dan kebijakan penghematan yang diterapkan.

Seperti yang dijabarkan dalam laporan Tren Pariwisata Global IPK International pada tahun 2012/2013, terjadi penambahan jumlah negara yang gagal membayar hutangnya sehingga krisis hutang belum berakhir dan berdampak negatif terhadap perilaku berwisata. Kondisi ini disebut juga dengan istilah 'pelambatan mobilitas'—di mana Eropa Barat, AS, dan Jepang tidak bisa dikecualikan.’

Faktor terakhir yang akan membantu membentuk industri pariwisata global tahun 2020-an adalah faktor sosial. Bom Waktu Demografi diam-diam mengancam karena usia populasi dunia dalam tingkatanyang tidak terduga.

Pada abad yang lalu kita menyaksikan penurunan tingkat kematian tercepat dalam sejarah. Seperti yang dilansir dari data PBB, usia harapan hidup penduduk dunia meningkat dari 47 tahun pada 1950–1955 menjadi 69 tahun pada 2005–2010.

Pada 1950, anak-anak di bawah usia 15 tahun berjumlah dua kali lipat dibandingkan orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Maka pada 2050, jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas akan melebihi jumlah anak-anak dengan rasio dua banding satu.

Oleh karena itu, pada 2024, wisatawan kami akan melakukan perjalanan di mana kebutuhan akan pengalaman baru dari pasar berkembang menyeimbangkan kondisi di Eropa dan AS (Pruned Markets) yang masih berusaha pulih dari krisis moneter.

Dan, penggunaan teknologi digital terkini dalam setiap aspek berwisata, mulai dari proses pencarian, pemesanan, transit, hingga penerbangan akan menjadi sebuah kebutuhan—praktis dan berjalan natural.




Artikel yang terkait

Metodologi penelitian

Laporan Skyscanner ini adalah karya 56 tim editor, peneliti, dan networker masa depan yang kuat di kota-kota internasional utama untuk menghasilkan gambaran detail tentang terobosan teknologi 10 tahun mendatang dan destinasi baru menarik yang akan membentuk industri perjalanan global pada tahun 2020-an.

Pakar

Kami mengeksplorasi teknologi dan perilaku perjalanan di masa mendatang dengan mempelajari berbagai keahlian para pakar ternama di dunia, termasuk Futuris, Daniel Burrus, penulis Technotrends: How to Use Technology to Go Beyond Your Competition, dan Futurolog Perjalanan, Dr Ian Yeoman.

Kami juga memanfaatkan pelajaran latar belakang yang diberikan pakar strategi digital, Daljit Singh, Chief Envisioning Officer Microsoft di Inggris, Dave Coplin, Executive Creative Director Google Creative Lab, Steve Vranakis, Kevin Warwick, Profesor Sibernetika di Reading University, dan Martin Raymond, Asisten Pendiri Future Laboratory serta penulis CreATE, The Tomorrow People, dan Buku Pegangan The Trend Forecaster.

Dari Skyscanner, pakar berikut juga dimintai gagasan, keahlian dan jika memungkinkan dikutip langsung dalam laporan ini, yakni Margaret Rice-Jones, Chairman, Gareth Williams, CEO dan Asisten Pendiri, Alistair Hann, CTO, Filip Filipov, Kepala B2B, Nik Gupta, Direktur Hotel, dan Dug Campbell, Manajer Pemasaran Produk.

Selain itu, kami menggunakan jaringan online The Future Laboratory, LS:N Global, untuk melengkapi penelitian, serta temuan dari seri tahunan laporan Masa Depan milik The Future Laboratory tentang perjalanan, teknologi, makanan, dan horeka.




Artikel yang terkait

Karya seni


Masa Depan Travel 2024 - Bagian 2 PDF (2.5Mb)







Masa Depan Travel 2024 - Bagian 3 PDF (2.5Mb)







Artikel yang terkait

Hubungi kami

Untuk informasi lebih lanjut tentang laporan ini, silakan hubungi:

Tika Larasati

tika.larasati@skyscanner.co.id

(65) 3157 6136

Untuk informasi lebih lanjut tentang Skyscanner, kunjungi : www.skyscanner.co.id

Bergabunglah dengan kami di:




Artikel yang terkait